Pada mulanya, ummat Islam jatuh, diiringi dengan
kegelapan dan tersingkir dari kedudukan sebagai pemimpin ummat manusia,
akhirnya tersisih dari lapangan hidup dan kegiatan di dunia. Peristiwa ini
tidak dapat dianggap sebagai satu peristiwa serupa dengan peristiwa-peristiwa
yang berulang-ulang terjadi di dalam sejarah tentang jatuhnya bangsa-bangsa,
silih bergantinya kekuasaan dan pemerintahan, jatuhnya raja-raja dan kalahnya
pasukan-pasukan penyerbu di medan pertempuran, hancurnya peradaban dan
kedudayaan, surutnya gelombang politik sesudah musim pasangnya. Sekali-kali
tidak.
Peristiwa beralihnya pimpinan dunia dari ummat
Islam, adalah suatu peristiwa aneh yang belum ada duanya dalam sejarah dunia.
Peristiwa kejatuhan ummat Islam ini, tidak menimpa
bangsa Arab saja dan tidak pula hanya menimpa ummat dan bangsa-bangsa yang
beragama Islam, apalagi keluarga penguasa-penguasa yang hilang kekuasaan, tahta
dan negerinya, tetapi lebih dari itu merupakan suatu bencana yang menimpa ummat
manusia seluruhnya, dan tak pernah dialami sejarah bencana yang lebih parah dan
merata dari itu. Sekiranya dunia menyadari akan hakekat malapetaka ini,
mengetahui betapa besar kerugian dan kehancurannya, niscaya ia akan menjadikan
hari yang naas itu sebagai hari berkabung dan duka-cita, hari ratap tangis yang
penuh duka, hari mengucapkan tanda turut berduka cita antara bangsa-bangsa dan
dunia akan memakai pakaian berkabung. Semua bencana itu tidak terjadi dalam
satu hari tertentu, tetapi terjadi tahap demi tahap dalam kurun zaman.
Dunia sampai hari ini belum berhasil menghitung dan
menilai bencana ini dengan benar, karena dunia belum memiliki ukuran yang
benar, untuk dapat mengukur bencana dan kerugian yang dideritanya.
Dunia tidak akan rugi karena jatuhnya satu negara
yang telah lama menguasai dunia, telah menaklukkan berbagai daerah dan negeri,
telah menguasai berbagai kelompok manusia, telah merasa senang hidup mewah di
atas penderitaan, kesengsaraan kaum lemah dan melarat.
Perikemanusiaan tidak akan merana disebabkan
pindahnya kekuasaan pemerintahan dan kemewahan dari tangan seorang ke tangan
orang lain dari bangsanya, atau dari satu kelompok ke kelompok lain yang juga
melakukan aniaya,sewenang-wenang dan perbudakan.
Alam raya ini tidak akan terkejut dan tidak akan
menderita karena jatuhnya satu bangsa yang telah menjalani umur tua dan
kelemahan atau disebabkan jatuhnya satu pemerintahan yang telah lapuk uratnya
dan longgar bagian-bagiannya. Peristiwa yang demikian sudah menjadi ketentuan
alam.
Air mata manusia lebih berharga untuk dicurahkan
menangisi seorang raja yang berpulang atau satu kerajaan yang lenyap. Maka
manusia tidak perlu merepotkan diri untuk meratapi seseorang yang tidak pernah
berbuat sesuatu untuk kebahagiaan manusia, walaupun hanya satu hari saja, dan
tak pernah berjuang sesaat pun untuk kesejahteraan manusia umumnya.
Bahkan banyak raja-raja dan bangsa-bangsa itu pada
hakekatnya hanya jadi beban di atas pundak dunia ini, sumber kecelakaan bagi
ummat manusia pangkal penderitaan bagi bangsa-bangsa yang kecil dan lemah, sumber
kerusakan dan penyakit dalam tubuh masyarakat, selalu menghembuskan racun
berbisa ke dalam tubuh masyarakat, Akhirnya, memerlukan operasi besar, sehingga
memotong bagian yang masak dan menjauhkannya dari bagian yang sehat, menjadi
tanda bagi kebesaran Allah dan rahmat-Nya yang luas disambut oleh ummat manusia
dengan rasa puas, gembira dan syukur kepada-Nya.
Akan tetapi berbeda dengan itu semua, tidaklah dapat
dianggap bahwa keterbelakangan, kejatuhan ummat Islam serta hilangnya
kedaulatan mereka dari dunia ini - padahal merekalah pendukung risalah para
Nabi, dan pembawa kesehatan bagi tubuh ummat manusia sebagai sekedar kejatuhan
biasa, kejatuhan satu bangsa atau satu golongan tertentu.
Kejatuhan ummat Islam merupakan kejatuhan suatu
"Risalah" yang berfungsi sebagai roh bagi masyarakat manusia dan
merupakan jatuhnya suatu pondamen yang di atasnya dibangun tata tertib agama
dan dunia.
Apakah kejatuhan dan tersisihnya ummat Islam
merupakan suatu hal yang menyedihkan ummat manusia di Timur dan Barat, yang sudah
berlalu beberapa abad itu?
Benarkah, bahwa dunia rugi dengan mundurnya ummat
Islam, padahal dunia kaya dengan adanya bangsa-bangsa dan suku bangsa yang
aneka ragam itu?
Dan kalau rugi, sampai di mana ruginya?
Bagaimanakah keadaan dunia, terutama sesudah kendali
dunia dipegang oleh bangsa-bangsa Eropa (Barat) sebagai pengganti kedudukan
ummat Islam, serta keberhasilan mereka mendirikan kekuasaan di atas puing-puing
kekuasaan Islam?
Apakah pengaruh dari pergeseran besar pada pimpinan
dunia ini dibidang agama, moral, politik, hidup dan masa depan kemanusiaan?
Dan akhirnya, bagaimanakah kalau dunia Islam bangkit
kembali dari jatuhnya, dan bangun dari tidurnya serta kembali ia memegang
tampuk kekuasaan?