Selanjutnya mengenai tulisan
dari tiga sarjana muslim tentang peradaban barat, pertama Leopold Weiss—seorang
wartawan luar negeri Jerman asal Austria yang kemudian memeluk Islam dan berjuang untuk
Islam, Sayyid Qutb, dan Sir Muhammad Iqbal.
Muhammad Asad (Leopold Weiss)
mencatat, Peradaban Barat modern hanya mengakui penyerahan manusia kepada tuntutan-tuntutan ekonomi, sosial, dan
kebangsaan. Tuhan mereka yang sebenamya bukanlah kebahagiaan spiritual melainkan
keenakan, kenikmatan duniawi. Mereka mewarisi watak nafsu untuk berkuasa dari peradaban Romawi Kuno. Konsep
"keadilan" bagi Romawi, adalah "keadilan" bagi orang-orang Romawi saja.
Sikap semacam itu hanya mungkin terjadi dalam peradaban yang berdasarkan pada konsepsi hidup yang sama sekali
materialistik. Asad rnenilai, sumbangan agama Kristen terhadap peradaban Barat sangatlah kecil.
Bahkan, saripati peradaban Barat itu sendiri sebenarnya irreligious.
....so characteristic of modern Western Civilization, is as unacceptable to Christianity as it is to Islam or any other religion, because it is
irreligious in its very essence.
Sayyid Qutb juga dikenal sangat kritis terhadap Barat, terutama setelah berkunjung ke Amerika
Serikat tahun 1948-1950. Di sana Quthb belajar tentang metode pendidikan Barat (Western Methods of Education). Ia belajar di Wilson's Teachers' College (saat ini bemama the University of the District of Columbia) pada the University
of Northern Colorado's Teachers' College. Ia meraih gelar MA di
universitas itu dan juga di Stanford University. Setelah tamat kuliah, Quthb juga
sempat berkunjung ke Inggris, Swiss dan
Italia. Pengalamannya lebih dari dua tahun di Amerika itu, tampaknya menjadi
"titik balik" yang penting dalam hidupnya. Ia kemudian menjadi kritikus Barat yang tajam dan segera sekembalinya ke
Mesir pada 1952, ia bergabung dengan Al-Ikhwanul Muslimin. Quthb juga dikenal sangat menekankan bahaya
perang pemikiran. Dia menulis,
"Para penjajah dewasa ini
tidak mengalahkan kita dengan senjata dan kekuatan, tetapi melalui orang-orang
kita yang telah terjajah jiwa dan pikirannya. Kita dikalahkan oleh dampak yang ditinggalkan oleh para imperialis
pada departemen pendidikan dan pengajaran, juga di pers serta buku-buku. Kita kalah oleh pena-pena yang tenggelam dalam
tinta kehinaan dan jiwa yang kerdil, sehingga pena-pena itu hanya bangga jika menulis tentang para pembesar Perancis,
Inggris dan Amerika."
Quthb juga mengritik tentang
hilangnya nilai kemanusiaan di masyarakat Amerika dan yang ada hanya "materialisme jahiliyah." Kata Quthb,
"Telah jelas terlihat,
keunggulan Amerika tampak dan menonjol pada bidang pekerjaan dan produksi, hingga tidak
tersisa segi lain yang menghasilkan
sesuatu dalam nilai kemanusiaan. Dalam hal di atas Amerika telah mencapai jenjang yang
belum bisa dicapai oleh bangsa lain,
bahkan Amerika telah membuat suatu mukjizat (karya-karya) yang mengubah kehidupan nyata menjadi tingkatan yang sulit
digambarkan dan dipercaya oleh orang yang tidak menyaksikannya sendiri.... Sesungguhnya mereka semua tumbuh dari satu
akar yang sama, yaitu budaya materi yang tidak memiliki hati dan jiwa, yang hanya mendengarkan suara dan alat-alat.
Hanya bicara dengan bahasa perdagangan, hanya melihat dengan lensa keuntungan dan mengukur nilai-nilai kemanusiaan
dengan ukuran tersebut."
Sarjana dan penyair Muslim
terkenal, Dr. Muhammad Iqbal pun dikenal
sangat tajam dalam menyorot peradaban Barat dan banyak menulis puisi tentang kebobrokannya. Iqbal sendiri rnerupakan 'produk pendidikan Barat'. Ia meraih Ph.D. di
Eropa dengan tesis berjudul "The Development of Metaphisics in Persia". Dalam kumpulan puisinya, Javid Namah, Iqbal nengungkap ketamakan peradaban Barat modern yang kurang mempedulikan aspek
kemanusiaan, "Her eyes lack of the tears of humanity, because of the love of gold and
silver." Dalam puisinya Bal-e-Jibril,
Iqbal juga mengingatkan bahaya pendidikan Barat modern
yang berdampak terhadap hilangnya keyakinan kaum
muda Muslim terhadap agamanya. Padahal, menurut Iqbal, keyakinan adalah aset yang sangat penting dalam
kehidupan seorang manusia. Jika keyakinan hilang dari diri seorang manusia, maka itu lebih buruk ketimbang perbudakan.
Dikatakan Iqbal dalam puisinya:
"Conviction
enabled Abraham to wade into the fire; conviction is an intoxicant which makes men self-sacrificing; Know you, oh victims of modern civilization! Lack of conviction is worse than slavery.